14 February 2018

[Resensi] The Life-Changing Magic of Tidying Up

Follow my blog with Bloglovin
Walaupun sudah susah payah merapikan rumah, apakah kertas-kertas terus saja bertumpuk dan pakaian harus terus Anda jejal-jejalkan di lemari? Kenapa kita tidak bisa menjaga kerapian rumah?

Marie Kondo memperkenalkan metode merapikan yang ampuh tiada duanya, KonMari. Keampuhan metode yang kini semakin marak diterapkan di Jepang dan telah dikemas dalam program televisi laris, “Tidy Up with KonMari!” ini, telah menular ke seluruh dunia. Saking ampuhnya, tak seorang pun klien Kondo kemali ke kebiasaan berantakan (dan calon kliennya harus masuk daftar tunggu selama  tiga bulan).

buku marie kondo, metode konmari, tips bebenah, bebenah ala marie kondo, organizing ala marie kondo, tips merapikan rumah, review buku marie kondo


Penulis : Marie Kondo

Penerjemah: Reni Indardini

Penerbit: PT Bentang Pustaka

ISBN : 9786022912446

Marie Kondo sudah suka berbenah sejak kecil, dia merasakan sesuatu yang beda ketika melihat kamarnya rapi dan memutuskan untuk menekuninya. Berbagai macam cara berbenah sudah pernah dia coba, pada awalnya dia merasa sudah melakukannya dengan benar, tetapi lama kelamaan barang-barangnya kembali berantakan. Apa pun metode yang dicobanya, hasilnya selalu sama. Karena itu Kondo mencoba menciptakan metode berbenah sendiri, yang membuat barang-barang tidak akan kembali berantakan.

Berbenah itu seharusnya dilakukan dalam satu waktu saja, tidak perlu lama-lama. Lakukan sekali saja, jadi tidak perlu berbenah setiap hari yang tentunya akan menyita waktu. Kondo memberikan tahapan-tahapan barang yang harus dipilah, dimulai dari pakaian, buku, kertas, pernak-pernik dan barang kenang-kenangan.

Berbenah dengan metode KonMari ini harus dilakukan sesuai urutan kategori, karena Kondo sudah memikirkan dengan matang apa-apa saja yang harus dibenahi, dan urutan ini adalah dari yang termudah sampai yang tersulit. Jangan memulai dari barang kenang-kenangan, karena ini adalah kategori yang paling sulit. Memilah barang kenang-kenangan pasti memerlukan waktu yang lama dan sering membuat kita tidak tega untuk membuangnya.

Bagaimana cara memilah barang-barang yang kita miliki? Kondo menjelaskan dengan sangat detil di bukunya, tapi inti dari metode berbenah ala KonMari ini yaitu, simpan semua barang yang benar-benar kita suka, yang membuat kita bahagia dan buang sisanya.

Jadi Kondo menyarankan ketika kita berbenah, sebaiknya lakukan sendiri, jangan sampai ada yang merecoki, karena kita akan terpengaruh oleh pendapat orang lain. Jangan perdulikan apa yang dibilang orang, walaupun barang yang kita simpan mungkin tidak biasa dan agak aneh, asal barang tersebut benar-benar kita sukai dan membuat kita bahagia, simpan saja.

Marie Kondo memiliki banya klien, dengan karakter yang berbeda-beda. Dan semua kliennya bisa berbenah dengan teknik ini, berarti teknik ini bisa diterapkan oleh siapa saja. Karena memang Kondo sudah melakukan survey dan berbagai macam trial and error untuk sampai pada metode berbenah ini.

Aku termasuk orang yang suka organizing, aku suka melihat barang-barang tertata pada tempatnya. Walaupun memang setelah beberes gak berapa lama pasti berantakan lagi, apalagi dengan dua orang anak laki-laki rumahku selalu berantakan hehehe. Pertama kali dengar ada buku berbenah KonMari ini, aku semangat sekali ingin membaca.

Keluargaku terdiri dari 4 orang, berarti barang-barang yang aku punya juga banyak. Kebetulan kami baru pindah, jadi barang-barang yang ada sekarang masih barang-barang yang benar-benar kami butuhkan. Tapi tidak menutup kemungkinan jumlah barang-barang itu akan terus bertambah. Apalagi kalau punya anak-anak, mereka akan tambah besar dan baju-baju mereka harus diganti menyesuaikan ukuran tubuh, jadi baju-baju lama pasti menumpuk kan.

Jadi bisa dibayangkan ya berapa banyak barang yang bakalan numpuk gak terpakai. Nah di buku KonMari ini, dia memberikan solusi buat barang-barang yang sudah tidak terpakai itu. Jadi pilih barang-barang yang benar-benar disukai untuk disimpan. Kalau suka tapi jarang dipakai, buang aja. Kalau suka tapi kekecilan, siapa tau nanti bakalan kurus lagi dan bisa dipakai, tetep buang aja. Karena kalimat “siapa tau nanti gini, siapa tau nanti gitu” rata-rata cuma wacana, dan gak bakalan pernah dipakai lagi.

Jadi sortir semua barang-barang yang dipunya, sisakan yang benar-benar disukai dan dibutuhkan. Tapi kendalanya nih, menyortir barang kepunyaan orang lain, misalnya suami atau anak. Aku sih orangnya tega kalau harus membuang barang yang udah tidak diperlukan, daripada menuh-menuhin lemari, mending dibuang atau diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Tapi kalau suami atau anakku belum tentu, jadi ya lemari tetep aja penuh.

Baju sudah di sortir nih, sudah berkurang, tapi terus beli baju baru lagi, ya numpuk lagi deh. Apalagi kalau ada diskonan, udah deh kalap. Iya kan? Di buku ini, KonMari juga mengajarkan bagaimana kita menghargai barang yang kita miliki, membuatnya menjadi ‘hidup’. Kita akan merasa memiliki hubungan dekat dengan barang-barang yang kita miliki dan membuat kita merasa sudah cukup hanya dengan memiliki barang-barang tersebut. Jadi tidak ada keinginan untuk membeli barang lainnya. Bisa sekalian irit ya.

Kalau ingin berhasil dengan metode KonMari ini, harus dipraktekkan ya. Jadi aku sudah praktek belum? Sudah. Gimana hasilnya? Lebih rapi dari sebelumnya. Kalau buka lemari baju, sudah lega karena semua masih tersusun rapi, walaupun jumlahnya masih berlebihan menurutku.

Kamu punya masalah berbenah gak di rumah? Sudah sering dirapikan tapi kok berantakan terus? Atau kamu punya banyak sekali barang sampai bingung menyimpannya? Kalau iya mungkin kamu juga perlu baca buku ini, kamu pasti bakalan senang dengan pencapaian dan hasil yang kamu dapat.

Read happily ^^

post signature



6 comments:

  1. Saya pernah tuh beres2 dengan membuang barang2 yg kira2 sdh tdk penting dan jarang digunakan. Eh, habis itu kepikiran dong sampai berbulan2. Nyesel gitu, ih coba gak dibuang ya... kan sayang... masih bagus... dan penyesalan2 semacamnya😂 kayaknya saya musti beli buku ini😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya juga sih, takutnya nyesel nantinya, berarti harusnya barang itu jangan dibuang

      Delete
  2. buku marie kondo ini jadi mengajarkan kita biar gak mubazir ya mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, gak mubazir, lebih irit, hidup seadanya, jadi lebih positif ya ^^

      Delete
  3. Suami ku juga gitu mbaak gak suka buang barang kalau akunya ngerasa barangnya udah gak berguna d rumah mending kasih orang trus baru buang hehehe

    ReplyDelete

enjoy your reading and don't forget to leave comment here